Priyo Tawarkan Tujuh Pemikiran untuk Bangkitkan Golkar

0
453
Priyo Budi Santoso. (Harian Warta Kota/henry lopulalan)

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Calon Ketua Umum Golkar Priyo Budi Santoso menawarkan tujuh langkah penting kebangkitan partai.

Ia menilai Golkar harus berani menerobos pakem tradisional yang selama ini terjadi.

“Saya tawarkan berpikir out of the box,” kata Priyo di Jakarta, Senin (25/4/2016).

Pertama, Priyo akan kembali membangun jalur keluarga besar ABRI, Birokrasi, Golkar (ABG).

Namun, keluarga besar ABG bukan menitikberatkan pada militer tetapi lebih kepada birokrasi.

“Jadi bangun kembali. Kalau saya terpilih, saya pastikan ada purnawirawan jenderal yang akan kami ajak bersama pimpin partai. Ada purnawirawan Polisi, TNI, mantan guru dan mantan PNS. Jadi bangunkan jalur ABG plus, yakni mengajak tokoh purnawirawan dan aktivis yang selama ini agak alpha disentuh Golkar,” jelas Priyo.

Kedua, Priyo mengingatkan pemimpin Golkar merupakan etalase partai.

Sehingga ‘branding’ Golkar menjadi penting.

Ia mengatakan pemimpin Golkar harus memiliki nilai positif ketika berhubungan dengan publik.

“Bukan pemimpin yang menjaga jarak. Kalau pemimpin Golkar masih tunjukkan eksistensi sebagai borjuis itu merugikan partai. Saya kalau terpilih akan saya instruksikan jangan tunjukkan kemewahan,” kata Mantan Wakil Ketua DPR itu.

Ketiga, Priyo mengingatkan perubahan cuaca politik akan memberikan karpet merah pada pemimpin partai yang energik, muda, dan fresh.

“Berisiko terhadap kepemimpinan yang tidak menuju tren kerakyatan tersebut,” katanya.

Keempat, Priyo memimpikan kantor partai menjadi pusat komando sekaligus tempat rakyat menyampaikan aspirasi apapun.

Bila hal itu tidak dimiliki Golkar, Priyo khawatir partai berlambang pohon beringin itu menjadi kuburan.

Kelima, Priyo akan menggunakan Pilkada untuk merebut kepala daerah. Pasalnya, pilkada serentak salah satu ujian terkait konflik yang dialami Golkar.

Keenam, Priyo akan mengedepankan politik luhur untuk mengedepankan tatakrama Golkar.

Ia mendesain Golkar tidak memburu kekuasaan semata tetapi mengedepankan kerakyatan.

Terakhir, Priyo menuturkan Golkar membutuhkan komando.

Ia mengaku menjadi kader dari bawah.

“Saya merasa sebuah partai butuh meredistribusi komando, untuk mengusung gubernur dan bupati tidak mesti dari pusat. Dengan itu semua jika saya diberi mandat saya siap untuk mewakafkan energi pada saya untuk bangkitkan kembali Golkar,” katanya.

TIDAK ADA KOMENTAR